Sejarah Pulau Flores Seharga 80.000 Golden

Pasca kekalahan Portugis dari Kesultanan Demak tahun 1527, Portugis berpindah operasi ke daerah utama penghasil rempah-rempah. Pusat penghasil rempah-rempah saat itu ialah daerah Maluku. Di Ternate Portugis berhasil menjalin kerjasama dengan kerajaan Ternate yang bercorak Islam. Komoditi rempah-rempah unggulan  berupa cengkeh dan pala. Selain berhasil menjalin kerjasama, Portugis juga mendapat izin dari kerajaan Ternate  untuk membangun benteng yang diberi nama Benteng Sao Paulo atau Benteng Gamalama.

Gambar. Penduduk Flores
Sumber. 4.bp.blogspot.com

Sikap terbukannya kerajaan Ternate atas Portugis tidak bisa dipungkiri untuk mengimbangi pesaingnya yaitu Kesultanan Tidore. Antara kesultanan Ternate dan Tidore sejak abad ke-13 sudah  berebut hegemoni kekuasaan. Kesultanan meluaskan pengaruhnya ke Halmahera Utara, Kepulauan Lease, Ambon, Suru, Sula dan Seram. Sedangkan pesaingnya, kesultanan Tidore meluaskan pengaruhnya kewilayah  Halmahera Tengah, Seram Timur, serta kawasan Raja Ampat di Papua Barat. Persaingan ini membuat dua kesultanan ini memilih sekutu asing untuk meluaskan hegemoninya. Ternate pada tahun 1512 bekerjasama dengan Portugis dan Tidore bersekutu dengan Spanyol pada tahun 1522.

Persaingan antara Portugis dan Spanyol memperebutkan daerah koloni di Maluku semakin meningkat hingga akhirnya Paus pemimpin tertinggi Katolik di Roma menyelesaikan dengan suatu perjanjian Saragoza tanggal 22 April 1529 yang bagian isinya adalah Spanyol harus meninggalkan Maluku dan memusatkan kegiatan di Filipina, sementara Portugis tetap melakukan aktivitas perdagangan di Maluku. Dari hasil perjanjian Saragoza ini membuat Portugis punya hak penuh untuk memonopoli perdagangan di kawasan Maluku.

Monopoli Portugis di Nusantara berakhir setelah berhasil diusir dari Ambon oleh Belanda pada tahun 1599. Portugis kemudian menduduki wilayah Tirmor (yang sekarang menjadi Negara Timor Leste), Solor dan Flores. Ternyata Belanda juga berkeinginan untuk menduduki wilayah Timur, Solor dan Flores. Sehingga, terjadi konflik baru antar kedua negera Eropa itu.

Konflik bisa diakhiri pada tahun 1859 melalui Kesepakatan Lisabon, sebuah perjanjian antara Portugis dan Belanda yang menentukan perbatasan antara Timor portugis dan Hindia Belanda. Bagian isinya adalah dimana Portugis menyerahkan Hindia Timur kepada Belanda kecuali untuk wilayah Timor dan Belanda harus membayar dana tambahan kepada Portugis sebesar 80.000 Golden untuk mendapatkan pulau Flores.

oOo

0 Response to "Sejarah Pulau Flores Seharga 80.000 Golden"

Posting Komentar