Kerajaan Mataram Kuno dan Dinasti Syailendra
Kerajaan Mataram Kuno merupakan salah satu kerajaan besar dalam sejarah Indonesia yang berkembang pada abad ke-8 hingga abad ke-10 Masehi. Kerajaan ini meninggalkan jejak peradaban yang sangat kuat, terutama dalam bidang agama, pemerintahan, dan kebudayaan. Salah satu dinasti paling berpengaruh dalam sejarah Mataram Kuno adalah Dinasti Syailendra, yang dikenal sebagai penguasa bercorak Buddha Mahayana dan pembangun candi-candi monumental seperti Borobudur.
Pembahasan mengenai Kerajaan Mataram Kuno dan Dinasti Syailendra menjadi penting karena kerajaan ini menunjukkan bahwa Nusantara telah memiliki sistem politik, agama, dan budaya yang maju jauh sebelum kedatangan bangsa Barat. Artikel ini akan mengulas secara lengkap dan mendalam mengenai asal-usul, perkembangan, sistem pemerintahan, peninggalan sejarah, hingga hubungan Dinasti Syailendra dengan Dinasti Sanjaya dalam Kerajaan Mataram Kuno.
Letak dan Latar Belakang Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno berkembang di wilayah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Pada awalnya, pusat kerajaan berada di Jawa Tengah, khususnya di daerah Kedu dan Prambanan, yang subur dan strategis. Kondisi geografis ini sangat mendukung perkembangan pertanian dan kehidupan masyarakat kerajaan.
Kerajaan Mataram Kuno dikenal juga dengan sebutan Kerajaan Medang, sebagaimana disebutkan dalam beberapa prasasti. Nama “Medang” merujuk pada wilayah inti kerajaan, sementara “Mataram” lebih dikenal dalam tradisi sejarah modern.
Sumber Sejarah Kerajaan Mataram Kuno
Informasi mengenai Kerajaan Mataram Kuno diperoleh dari berbagai sumber sejarah, terutama prasasti dan peninggalan arkeologis. Beberapa prasasti penting antara lain:
Prasasti Canggal (732 M) – menyebutkan Raja Sanjaya sebagai pendiri kerajaan.
Prasasti Kalasan (778 M) – berkaitan dengan Dinasti Syailendra dan pembangunan candi Buddha.
Prasasti Kelurak (782 M) – menyebutkan pemujaan terhadap Buddha.
Prasasti Mantyasih (907 M) – mencatat silsilah raja-raja Mataram Kuno.
Selain prasasti, candi-candi besar seperti Borobudur, Prambanan, dan Mendut menjadi bukti nyata kejayaan kerajaan ini.
Dinasti dalam Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh dua dinasti besar, yaitu Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Keduanya memiliki corak keagamaan yang berbeda, namun sempat hidup berdampingan dalam satu wilayah kekuasaan.
Dinasti Sanjaya
Dinasti Sanjaya bercorak Hindu Siwa. Pendiri dinasti ini adalah Raja Sanjaya, yang dikenal sebagai penguasa kuat dan religius. Dinasti ini lebih banyak membangun candi bercorak Hindu, seperti Candi Prambanan.
Dinasti Syailendra
Dinasti Syailendra bercorak Buddha Mahayana dan dikenal sebagai dinasti yang sangat berpengaruh, terutama dalam bidang seni dan arsitektur keagamaan.
Asal-usul Dinasti Syailendra
Asal-usul Dinasti Syailendra masih menjadi perdebatan para sejarawan. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Dinasti Syailendra berasal dari Jawa, sementara pendapat lain menyebutkan bahwa dinasti ini memiliki hubungan dengan Sriwijaya atau wilayah Asia Tenggara lainnya.
Nama “Syailendra” berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti “raja gunung”, mencerminkan kekuasaan dan keagungan dinasti ini. Dinasti Syailendra mulai berkuasa sekitar pertengahan abad ke-8 Masehi dan mencapai puncak kejayaan pada abad ke-9 Masehi.
Raja-raja Terkenal Dinasti Syailendra
Beberapa raja penting dari Dinasti Syailendra antara lain:
Raja Panangkaran – dikenal sebagai raja yang mendukung perkembangan agama Buddha.
Raja Samaragrawira – memperluas pengaruh dinasti dan mempererat hubungan dengan Sriwijaya.
Raja Samaratungga – raja terbesar Dinasti Syailendra dan pembangun Candi Borobudur.
Putri Pramodhawardhani – putri Samaratungga yang menikah dengan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya.
Pernikahan politik ini menjadi titik penting dalam sejarah Mataram Kuno.
Kehidupan Keagamaan di Masa Dinasti Syailendra
Dinasti Syailendra menganut agama Buddha Mahayana, yang berkembang pesat di Jawa Tengah. Kehidupan keagamaan sangat didukung oleh kerajaan, terlihat dari banyaknya pembangunan candi sebagai pusat ibadah dan pendidikan agama.
Candi tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemujaan, tetapi juga sebagai simbol kekuasaan raja dan legitimasi politik. Ajaran Buddha yang berkembang saat itu juga memengaruhi nilai-nilai sosial masyarakat, seperti toleransi dan kehidupan spiritual yang kuat.
Candi Borobudur: Puncak Kejayaan Dinasti Syailendra
Candi Borobudur merupakan peninggalan terbesar dan paling terkenal dari Dinasti Syailendra. Candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dan selesai pada abad ke-9 Masehi.
Borobudur bukan hanya bangunan keagamaan, tetapi juga karya arsitektur dan seni yang luar biasa. Relief-reliefnya menggambarkan ajaran Buddha, kehidupan masyarakat Jawa Kuno, serta nilai-nilai moral dan spiritual.
Keberadaan Borobudur menunjukkan bahwa Dinasti Syailendra memiliki kemampuan teknologi, organisasi tenaga kerja, dan sumber daya yang sangat maju.
Hubungan Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya
Hubungan antara Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya sempat diwarnai persaingan, terutama dalam pengaruh politik dan keagamaan. Namun, konflik tersebut mereda setelah perkawinan antara Pramodhawardhani (Syailendra) dan Rakai Pikatan (Sanjaya).
Peristiwa ini menandai bersatunya dua dinasti besar dan memperkuat Kerajaan Mataram Kuno. Setelah itu, pengaruh Dinasti Sanjaya semakin dominan, terutama dalam bidang politik.
Kemunduran Dinasti Syailendra
Kemunduran Dinasti Syailendra terjadi sekitar akhir abad ke-9 Masehi. Beberapa faktor penyebab kemunduran antara lain:
Persaingan politik internal
Menguatnya Dinasti Sanjaya
Perpindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur
Tekanan dari kekuatan luar seperti Sriwijaya
Setelah itu, Dinasti Syailendra diduga meninggalkan Jawa dan berpengaruh di wilayah lain, sementara Mataram Kuno memasuki fase baru di bawah Dinasti Sanjaya.
Perpindahan Pusat Kerajaan Mataram Kuno
Sekitar abad ke-10 Masehi, pusat Kerajaan Mataram Kuno berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada masa pemerintahan Mpu Sindok. Perpindahan ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti bencana alam (letusan gunung berapi) dan pertimbangan ekonomi serta politik.
Peristiwa ini menandai berakhirnya periode klasik Mataram Kuno di Jawa Tengah dan membuka babak baru dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa Timur.
Warisan Sejarah Kerajaan Mataram Kuno dan Dinasti Syailendra
Warisan Kerajaan Mataram Kuno dan Dinasti Syailendra sangat besar bagi sejarah Indonesia, antara lain:
Berkembangnya tradisi penulisan prasasti
Kemajuan arsitektur candi
Toleransi antara agama Hindu dan Buddha
Dasar kebudayaan Jawa Kuno
Nilai-nilai tersebut masih dapat dirasakan hingga kini dan menjadi bagian penting dari identitas budaya bangsa Indonesia.
Penutup
Kerajaan Mataram Kuno dan Dinasti Syailendra merupakan bukti nyata bahwa Nusantara telah memiliki peradaban yang maju, terorganisasi, dan berpengaruh sejak berabad-abad lalu. Melalui peninggalan sejarah seperti prasasti dan candi-candi megah, kita dapat memahami bagaimana kehidupan politik, keagamaan, dan budaya berkembang secara harmonis.
Memahami sejarah Mataram Kuno dan Dinasti Syailendra bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan kekayaan sejarah bangsa yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Posting Komentar untuk "Kerajaan Mataram Kuno dan Dinasti Syailendra"